Humanis, Kapolda Temui dan Sapa Aliansi Pemuda Kalbar di Bundaran Digulis Untan

No Comment Yet

IMG-20181103-WA0062

Tribratanews – Aliansi pemuda Kalimantan Barat (Kalbar) hari ini, Sabtu (3/11/2018) menggelar aksi damai bertajuk Aksi Bela Bangsa. Kegiatan ini berpusat di Bundaran Digulis Universitas Tanjung Pura (Untan).

Aksi ini diikuti oleh ratusan peserta dari massa beberapa OKP serta organisasi kebudayaan yang ada di Kalimantan Barat, diantaranya DPD Pemuda Pancasila, DPD KNPI Kalbar, PMKRI PC Kota Pontianak, HMI Komisariat Untan, GMKI PC Kota Pontianak, PMII PK Kalbar, GMNI PC Kota Pontianak, HIKMAHBUDHI PC Pontianak. Ratusan massa aksi ini membawa berbagai atribut dan menyuarakan aksinya, disamping aksi juga ditampilkan beberapa kebudayaan dari organisasi kebudayaan yang ikut dalam aksi ini.

Saat sedang melintasi daerah tersebut, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, Irjen (Pol) Drs. Didi Haryono SH, MH sontak turun dari kendaraan dinasnya dan langsung menemui, menyapa dan berdialog bersama kerumunan massa tersebut.

Langkah yang diambil oleh Irjen (Pol) Didi Haryono tersebut merupakan wujud nyata sikap humanis personel Polri dalam memberikan rasa aman kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa memilah-milah suku, ras maupun agama.

Usai berdialog bersama perwakilan massa aksi, orang nomor satu di Kepolisian Polda Kalbar ini, menerima tiga lembar kertas yang berisi seruan dari massa aksi.

“Hari ini kita melihat spirit pemuda, yang kebetulan masih dalam suasana hari sumpah pemuda. Kalimantan Barat sangat multi etnis, kita bisa bersatu bersama-sama untuk menjaga dalam bingkai NKRI. Tentunya tadi kita telah mendengar poin-poin yang disampaikan perwakilan para pemuda di Kalbar. Jadi intinya adalah mengajak kita semua menjaga keutuhan bangsa dan mengajak bersama-sama menjaga stabilitas keamanan di wilayah Kalimantan barat, dan alhamdulillah memang sampai saat ini, seluruh rangkaian aktivitas warga masyarakat di Kalimantan Barat memang kondusif,” Kata Irjen (Pol) Didi Haryono di hadapan massa aksi.

Berikut ini isi seruan lengkap yang gaungkan oleh Aliansi Pemuda Kalbar dalam aksi damai tersebut :

kita lahir dan hidup di Indonesia, negeri yang kaya raya ragam dan macam suku Bangsa, agama, bahasa, ras etnis, golongan, budaya dan entah apalagi.

Tentunya keberagaman itu bisa berdampak positif maupun negatif. Implikasi negatif muncul ketika keberagaman dimaknai ancaman, bukan tantangan. Sehingga tidak tumbuh sikap saling memahami atas perbedaan tersebut. Sebaliknya, jika diantara anak bangsa ini bisa menjalankan sikap saling memahami dan toleransi atas perbedaan itu, keberagaman akan menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat. Kita memiliki alat pemersatu perbedaan yang lahir dari nilai-nilai luhur bangsa, yaitu Pancasila dan Undang-undang 1945 dengan berbagai tatanan yang sistematis didalamnya.

Meski demikian, harus diakui bahwa persoalan kerukunan hidup beragama masih merupakan tantangan yang serius yang harus dihadapi. Entah karena faktor provokasi dan tantangan dari luar maupun dari negeri kita sendiri. Tapi apapun tantangan dan persoalannya, kita yakin bahwa tuhan akan memberikan jalan penyelesaian. Sebagai negeri yang besar dan kaya keberagaman memang banyak tantangan yang harus dihadapi, tapi pasti banyak solusi yang bisa digali. Kerukunan agama bukan merupakan kebutuhan atau tuntutan dari pemerintah, itu merupakan kewajiban, yang lebih luasnya mengenai kemanusiaan. Karena hidup rukun dan damai adalah kewajiban kemanusiaan dari diri setiap orang. Sila pertama sari Pancasila hakekatnya merupakan komitmen mendasar bagi bangsa bahwa hidup harus berlandaskan sendi-sendi agama. Oleh karena itu mari kita bangun kehidupan beragama secara berkualitas dan bermartabat dengan menjunjung tinggi semangat kerukunan dan kedamaian antar umat beragama. Kerukunan beragama bertujuan untuk menciptakan interaksi sosial yang baik dan merupakan kepentingan negara dalam mewujudkan negara yang aman, daman dan nyaman.

Menyadari hal ini, para pendiri negeri ini telah memikirkan bagaimana upaya agar mempersatukan masyarakat Indonesia yang beraneka ragam melalui semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Yang mempunyai arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Secara mendalam bhineka tunggal ika memiliki makna walaupun Indonesia sebagai negara yang multi kultural, dimana terdapat banyak suku, agama, ras, kesenian adat, bahasa dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan yaitu sebangsa dan setanah air. Dipersatukan dengan bendera, lagu kebangsaan, mata uang, bahasa dan lain sebagainya.

Disisi yang lain, tokeransi dari perspektif kaum muda, toleransi dan sikap yang saling memiliki dan menghargai perekat dan pengikat kerukunan bangsa. Potensi konflik dan tanyangan dimana kita merupakan negara kepulauan yang memiliki keragaman dalam segala hal. Nilai-nilai agama dan budaya tidak dijadikan sumber etika dalam berbangsa dan bernegara. Semua agama mengajarkan tentang kebaikan. Adanya nilai-nilai budaya sebagai sumber etika dan moral. Terakhir kepedulian generasi muda dalam menjaga persatuan. Terjadinya konflik sosial budaya terjadi karena salah dalam mengartikan toleransi, selain itu kesenjangan ekonomi, praktek birokrasi yang diwarnai KKN, praktek demokrasi yang mencampur adukan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Toleransi dari prespektif kaum muda menjadikan nilai-nilai agama dan budaya sebagai sumber etika kehidupan dalam rangka memperkuat akhlak dan moral. Sejarah perjuangan bangsa Indonesia telah mencatat peran penting pemuda, sebagai garda terdepan bangsa ini. Toleransi merupakan kebutuhan mutlak dalam kehidupan bermasyarakat.

Saat ini bangsa kita menghadapi kondisi yang mengkwatirkan, terutama kemunculan kehendak-kehendak yang mengingkari adanya kebhinekaan yang menjadi kekuatan bangsa.

Saat ini sangat memprihatinkan karena bersamaan dengan kondisi tersebut, sesama anak bangsa juga mulai saling tidak percaya satu sama lain sehingga mengancam kelangsungan berbangsa dan bernegara.

Saat ini, kehidupan berbangsa kita sedang menghadapi tantangan yang cukup berat, proses mengupayakan negara demokrasi yang matang diguncang oleh situasi politik yang jauh dari kesantunan dan adab mulia.

Sajian drama dan ujaran kebencian juga merajalela di media sosial. Situasi yang sarat muatan kecurigaan dan ketakutan antar kelompok tersebut tentu tidak boleh terus dilanggengkan. Ditengah posisi media mainstream (arus utama) yang terkooptasi oleh kepentingan politik pemiliknya dan berita hoax (bohong) yang marak, menuntut kaum muda untuk tampil sebagai penyelamat bangsa.

(Tribratanews.id/Humas Polda Kalbar)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *